AcehGate|Opini, — Dinginnya dataran tinggi Gayo di Takengon pada 25 November 2025 itu bukan hanya sekadar suhu, tetapi juga firasat yang menusuk. Bersama sahabatku , Edwar M.Nur, dan para pengurus PMI Aceh, kami mencoba mencari suasana santai setelah Musprov. Namun, ketenangan itu tiba tiba berubah menjadi awal tragedi yang pahit.
Tepat saat malam memeluk kami, dari seberang Danau Laut Tawar, terdengar gemuruh yang menggetarkan, suara yang lebih menakutkan dari apa pun yang pernah kami dengar. Sepersekian detik, ketenangan kami direnggut. Panik bukan lagi sekadar emosi, melainkan udara yang kami hirup.
”Itu longsor,” bisik seseorang. Suara itu, yang begitu pelan, justru mengumumkan vonis isolasi kami.
Kecemasan itu terbukti nyata. Tak berselang lama Suara runtuhan tanah datang kembali, kali ini hanya beberapa meter dari gerbang Hotel Renggali. Jalan utama—tertimbun. Jalan alternatif—putus. Kami, para penggerak kemanusiaan, kini menjadi korban yang terperangkap. Alam malam itu seolah melayangkan protes dalam kebisingan yang mencekam, merenggut semua aroma ketenangan dari rimbunnya kebun kopi.
Tangan Dingin PMI Melawan Keputusasaan
Dua hari, hingga 27 November 2025, kami benar-benar terisolasi. Namun, seragam PMI yang kami kenakan adalah janji. Rasa putus asa harus kami kalahkan. Kami bersama seluruh relawan, tanpa berpikir panjang, mengambil sekop, cangkul, dan gergaji, serta peralatan seadaanya
Kami berjuang lebih dari lima jam. Lumpur tebal dan batang pohon adalah musuh yang harus kami taklukkan. Itu adalah momen paling mengharukan: melihat bagaimana jiwa kebersamaan PMI muncul, bukan hanya untuk membantu orang lain, juga untuk membebaskan diri sendiri. Kami bahu-membahu, dengan peluh bercampur lumpur, walaupun kemudian mendapati kenyataan lain: masih ada lima titik longsor lain di depan mata
Ketika akhirnya kami tiba di Takengon, suasananya terasa seperti diambang kehancuran. Kota gelap gulita, internet mati total. Wajah-wajah panik berdesakan, berebut harapan. Kami mencari posko Pemda Aceh Tengah, yang menjadi satu-satunya titik terang.
Di tengah desak-desakan warga yang frustrasi mencari signal menjemput asa bersama keluarga kami akhirnya berhasil mengirim kabar ke Banda Aceh. Rasa lega yang luar biasa, memecah kebuntuan komunikasi lebih dari 24 jam. Namun, kabar balasan justru menambah pedih: Banda Aceh juga panik, harga kebutuhan pokok melambung, BBM langka, dan yang lebih menyedihkan harapan untuk bertemu keluarga yang tersebar diseluruh area bencana tidak ada berkabar
Melawan Rimba, Mencari Sinyal Harapan
Pada 29 November 2025, bersama sahabat saya bang Edo (Edwar M.Nur) dengan hati berat, memutuskan untuk menerobos ke Bener Meriah. Mengikuti jejak Rombongan PMI yang sudah duluan berangkat. Suasana di sana bahkan lebih mencekam. Toko-toko hampir banyak tutup, kehabisan stok, dimana mana orang beramai ramai mencari Toko beras dan sembako. Gas LPG kehabisan stock, aroma “kelaparan” pelan dan pasti akan datang, jika uluran tangan pemerintah terlambat. Sebagian masyarakat memilih singgah di posko PMI yaitu posko darurat PMI Aceh di dekat Bandara Rembele. Hanya untuk mendapatkan akses internet gratis dan makanan seadanya, karena kehadiran PMI Aceh dilokasi bencana tidak dalam kesiapan bencana, akan tetapi dengan jiwa kemanusiaan mencoba merespon kesedihan warga yg dihinggap musibah.
Di sana, dalam balutan cuaca dingin yang menyayat, tanpa alas dan selimut memadai, kami merasakan duka bencana yang sesungguhnya. Diskusi kami dengan Bang Edo begitu intens. Akses darat mati. Sebagian sahabat memutuskan langkah nekat: berjalan kaki menembus rimba dan bahaya longsor susulan menuju Aceh Utara. Kami memilih alternatif udara mencoba peruntungan “hamparan Rembele”
Terminal bandara yang dipenuhi ratusan wajah yang membawa kesedihan yang sama. Wajah-wajah yang lelah, penuh cemas. Kami mencoba berkomunikasi dengan Kepala Bandara, namanya Sofyan, berharap ada sedikit peluang untuk terbang keluar. sementara diruang tunggu, di pelataran, bahkan di parkiran—semua dipenuhi air mata, pelukan perpisahan, dan janji yang terucap dari mereka yang berharap bisa meninggalkan penderitaan ini.
Keajaiban di Puncak Rasa Syukur
Pagi itu, 1 Desember 2025, adalah puncak keputusasaan kami. Menjelang pukul 12 siang, keajaiban itu datang dalam bentuk suara riang Pak Sofyan. “Ada ‘Orang Baik’ yang akan mengevakuasi ke Medan dengan Susy Air!” Pak sofyan berucap dengan nada riang kepada kami.
Berita itu bagai bedug menjelang berbuka puasa, memecah keputusasaan kami. Hampir berbarengan, Prof. Yusril, Menko Hukumimipas, menghubungi saya. memastikan helikopter dari Lanud Sultan Iskandar Muda juga siap menjemput. dan sesaat kemudian ponsel saya berdering kembali kali ini konfirm kepastian bahwa helikopter akan datang ke rembele disampaikan oleh Dan Lanud Sultan Iskandar Muda kolonel Nav Sudaryanto. Saya menduga Prof.Yusril sudah berkomunikasi sebelumnya dengan Dan Lanud. Rasa haru menghimpiri diiringi Rasa syukur, ternyata banyak “Orang Baik” mengelilingi kami.
Dalam situasi menentukan pulihan, Kami harus berfikir cepat tanpa mengurangi rasa hormat, atas uluran tangan “Orang-Orang Baik”, saat pilihan itu bergolak menuju keputusan, tiba-tiba pesawat jenis Caravan Susy Air mendarat. bersama sahabat dan senior saya bang Edo, dan beberapa rekan PMI, A.Haikal Asri Ketua PMI Banda Aceh, Edi “Obama” ketua PMI Bireun serta Kepala Markas Daerah PMI Aceh Surya Chandra segera take off menuju Kuala Namu, Medan. Kami meninggalkan kepungan longsor, membawa kisah haru tentang kegigihan PMI yang tak pernah padam. Yang paling berharga, kami membawa serta kekuatan persahabatan yang teruji dan terjalin erat di tengah badai, membuktikan bahwa dalam duka yang paling dalam, ikatan kemanusiaanlah yang menjadi penyelamat.
Zulmahdi Hasan (Rembele-Bener Meriah, 1 Desember 2025)


















